Obligasi ACC Rilis September 2026, Investor Balikpapan Pantau Suku Bunga BI

Obligasi ACC Rilis September 2026, Investor Balikpapan Pantau Suku Bunga BI
ACC memulai masa penawaran awal obligasi yang dijadwalkan terbit pada September 2026.

EKONOMI360.ID — ACC saat ini tengah berada dalam masa penawaran awal (bookbuilding) obligasi. Rencananya, surat utang tersebut akan resmi diterbitkan pada bulan depan. Langkah ini diambil perusahaan sebagai bagian dari strategi untuk mendapatkan dana segar guna mendukung modal kerja kegiatan usaha.

Hingga Juli 2026, emiten multifinance ini tercatat telah mengantongi dana segar sebesar Rp 1,03 triliun dari penerbitan obligasi. Jumlah ini menjadi bagian dari total kebutuhan pendanaan perusahaan sepanjang tahun.

Keputusan Terbitkan Utang Tak Hanya Lihat BI Rate

EVP Corporate Communication & Strategy ACC, Riadi Prasodjo, menegaskan bahwa keputusan untuk menerbitkan obligasi tidak semata-mata bergantung pada pergerakan suku bunga acuan. Ada sejumlah pertimbangan lain yang ikut menentukan, seperti kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, dan strategi bisnis perusahaan.

"Namun, keputusan terkait penerbitan obligasi mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi pasar, kebutuhan likuiditas, dan strategi bisnis perusahaan," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).

Meski begitu, Riadi memastikan perusahaan tetap membuka opsi penerbitan surat utang ke depannya, selama kondisi pasar mendukung dan kebutuhan pendanaan memang ada.

Kupon Obligasi Multifinance Masih Dinamis

Riadi menjelaskan, tren kupon obligasi di industri multifinance saat ini masih mengikuti kondisi suku bunga dan pasar keuangan yang dinamis. Tingkat kupon yang ditawarkan penerbit sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap risiko serta profil masing-masing perusahaan.

Kondisi ini sejalan dengan data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang mencatat penerbitan surat utang multifinance baru mencapai Rp 14,57 triliun per Juli 2026. Angka ini menurun cukup dalam, yakni 41,8%, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 25,03 triliun.

Penurunan ini mencerminkan pasar yang masih berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi, namun langkah ACC untuk tetap meluncurkan obligasi baru menunjukkan optimisme terhadap kebutuhan pembiayaan di sektor otomotif dan alat berat.

Dengan ditahannya BI Rate di 5,75%, pelaku pasar masih menunggu sinyal lebih jelas dari bank sentral terkait arah kebijakan moneter beberapa bulan ke depan. Keputusan ini akan menjadi penentu utama bagi emiten seperti ACC dalam menentukan timing dan tingkat kupon penerbitan surat utang selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index