JAKARTA - Bulan Ramadan sering kali dimanfaatkan oleh berbagai sektor untuk meningkatkan pendapatan, dan hal ini juga berlaku bagi mitra PT Amartha Mikro Fintek.
Seiring dengan tingginya permintaan di sektor konsumsi dan kerajinan tangan selama bulan suci ini, Amartha melihat momentum tersebut sebagai kesempatan untuk mendorong pendapatan bagi usaha mikro, terutama yang dikelola oleh para perempuan di pedesaan.
Namun, meski ada potensi peningkatan pendapatan, perusahaan tetap memastikan tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian dalam memberikan pendanaan.
Meningkatnya Pendapatan di Sektor Konsumsi dan Kerajinan Tangan
VP Public Relations Amartha, Harumi Supit, menjelaskan bahwa sektor konsumsi dan kerajinan tangan menjadi sektor yang paling merasakan dampak positif dari Ramadan.
Dengan meningkatnya permintaan menjelang hari raya, banyak mitra Amartha yang melihat lonjakan penjualan produk mereka, baik itu barang konsumsi sehari-hari atau kerajinan tangan yang banyak dicari selama bulan Ramadan.
"Momentum Ramadan memang meningkatkan pendapatan mitra kami, terutama yang bergerak di sektor konsumsi dan kerajinan tangan. Namun, kami tetap menjaga tata kelola yang baik dalam proses pendanaan," ujarnya.
Amartha, yang sejak 2020 telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun untuk modal usaha, berkomitmen untuk terus mendorong pemberdayaan UMKM perempuan di pedesaan.
Sebagai platform fintech peer-to-peer lending (P2P), Amartha tidak hanya berfokus pada pencapaian hasil jangka pendek, tetapi juga memastikan bahwa setiap usaha mikro yang mereka beri pinjaman memiliki kesempatan untuk berkembang secara berkelanjutan.
Prinsip Tata Kelola dan Credit Scoring yang Ketat
Meskipun Ramadan menjadi periode yang penuh dengan peluang untuk meningkatkan pendapatan, Harumi menekankan bahwa Amartha tetap mematuhi tata kelola yang ketat dan melakukan proses credit scoring yang teliti dalam setiap pendanaan yang diberikan.
Proses tersebut dilakukan dengan memperhatikan analisis risiko yang mendalam agar pendanaan yang disalurkan tepat sasaran dan memberikan dampak positif bagi para mitra.
"Tata kelola dan ketentuan credit scoring adalah bagian dari komitmen kami untuk memastikan bahwa setiap pendanaan yang kami berikan tidak hanya mendukung pertumbuhan usaha, tetapi juga menjaga portofolio kami tetap sehat," tambahnya.
Hal ini juga disertai dengan pendampingan dalam literasi digital dan keuangan yang diberikan kepada para mitra, agar mereka dapat mengelola keuangan dan usaha mereka dengan lebih efektif.
Pencapaian dan Kinerja Amartha di Tahun 2025
Pada tahun 2025, Amartha mencatatkan pencapaian yang cukup signifikan. Sebanyak lebih dari 3,6 juta usaha mikro telah diberdayakan melalui pendanaan yang disalurkan oleh Amartha.
Dengan tingkat keberhasilan bayar (TKB90) yang mencapai 95,61%, Amartha berhasil menjaga kualitas portofolionya dengan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) yang sangat rendah, yakni hanya 4,39%. Capaian ini berada jauh di bawah ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menetapkan TWP90 maksimal sebesar 5%.
Angka ini menjadi bukti bahwa model bisnis Amartha dalam memberikan pinjaman kepada UMKM yang mayoritas dijalankan oleh perempuan di perdesaan sangat efektif dan dapat berjalan dengan baik meski di tengah tantangan ekonomi.
Keberhasilan ini juga mencerminkan kepercayaan yang tinggi dari mitra terhadap Amartha, serta kemampuan perusahaan untuk memitigasi risiko dengan cara yang bijaksana.
Proyeksi dan Tantangan di Masa Depan
Harumi Supit juga menyoroti bahwa meski Amartha mengalami lonjakan pendapatan di bulan Ramadan, perusahaan tetap waspada terhadap kemungkinan adanya fluktuasi pasar dan perubahan tren konsumsi yang dapat mempengaruhi permintaan di luar bulan Ramadan.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor pembiayaan fintech secara keseluruhan menghadapi tantangan yang datang dari fluktuasi ekonomi dan likuiditas industri.
Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, juga menyoroti bahwa penyaluran pinjaman fintech P2P lending pada Ramadan 2026 diperkirakan akan lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, meskipun ada potensi pertumbuhan, kondisi ekonomi yang lebih kompleks dan pola konsumsi yang musiman akan membatasi pertumbuhan pinjaman, dengan prediksi berada di kisaran 3% hingga 7% secara month-to-month (MtM).
Pada sisi lain, meskipun ada tantangan, Amartha tetap optimis dan berkomitmen untuk terus mendorong pemberdayaan UMKM melalui layanan fintech yang berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang, bukan hanya dalam jangka pendek.
Peningkatan Penyaluran Pendanaan pada Periode Ramadan
Berdasarkan data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran pendanaan pada periode Ramadan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan, dengan angka pertumbuhan mencapai 8,90% pada tahun 2024 dan 3,80% pada tahun 2025.
Kenaikan ini terutama didorong oleh tingginya permintaan pinjaman untuk kebutuhan konsumtif, seperti belanja rumah tangga dan kebutuhan hari raya, yang sering kali mendominasi sektor pembiayaan selama bulan Ramadan.
Harumi menambahkan bahwa meski konsentrasi penyaluran pinjaman di bulan Ramadan cenderung pada kebutuhan konsumsi, Amartha tetap berupaya mendiversifikasi portofolio pendanaan dengan mengutamakan usaha-usaha yang dapat bertahan dan berkembang setelah Ramadan, terutama yang berfokus pada peningkatan kapasitas produksi dan penjualan untuk jangka panjang.
Meningkatkan Keberlanjutan Usaha Mikro dengan Tata Kelola yang Baik
Secara keseluruhan, meskipun bulan Ramadan menjadi momentum bagi peningkatan pendapatan bagi mitra Amartha, perusahaan tetap menjaga prinsip-prinsip tata kelola yang baik dalam setiap proses pendanaan. Hal ini tidak hanya untuk mendukung UMKM dalam jangka pendek, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha mereka di masa depan.
Dengan pendekatan yang bijaksana dan penggunaan teknologi yang tepat, Amartha berupaya terus memberikan dampak positif bagi pemberdayaan UMKM perempuan di pedesaan, sekaligus berkontribusi pada perekonomian digital Indonesia.