BCA

BCA Perkuat Keamanan Digital Lewat Sertifikasi Privasi Dan AI

BCA Perkuat Keamanan Digital Lewat Sertifikasi Privasi Dan AI
BCA Perkuat Keamanan Digital Lewat Sertifikasi Privasi Dan AI

JAKARTA - Keamanan dan kepercayaan nasabah menjadi fondasi utama dalam transformasi digital sektor perbankan. 

Di tengah pemanfaatan teknologi yang semakin luas, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA menegaskan komitmennya untuk memastikan inovasi digital berjalan seiring dengan perlindungan data dan tata kelola yang bertanggung jawab.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan standar internasional dalam pengelolaan privasi data dan pemanfaatan kecerdasan buatan.

Sebagai institusi perbankan, BCA memandang perkembangan teknologi digital, termasuk artificial intelligence atau AI, sebagai peluang strategis untuk meningkatkan kualitas layanan. 

Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus diiringi dengan sistem pengamanan yang kuat agar hak dan privasi nasabah tetap terlindungi. Kesadaran inilah yang mendorong BCA untuk memperkuat tata kelola teknologi secara menyeluruh.

Upaya tersebut ditandai dengan diraihnya dua sertifikasi berstandar internasional, yakni ISO Privasi Data atau ISO 27701 serta ISO Manajemen Kecerdasan Buatan atau ISO 42001. Pencapaian ini mempertegas posisi BCA sebagai salah satu pionir dalam keamanan digital, inovasi teknologi, dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab di Indonesia.

Komitmen BCA Dalam Keamanan Digital

Direktur BCA, Lianawaty Suwono, menyampaikan bahwa pencapaian dua sertifikasi internasional tersebut mencerminkan upaya berkelanjutan BCA dalam menjaga kepercayaan nasabah. Menurutnya, kepercayaan merupakan aset paling berharga yang menopang keberhasilan perseroan selama ini.

“Kepercayaan nasabah menjadi fondasi utama bagi keberhasilan yang telah diraih oleh BCA sejauh ini,” kata Lianawaty.

Ia menegaskan bahwa sebagai bank yang terus berinovasi, BCA memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap pemanfaatan teknologi dilakukan secara aman dan etis. 

Oleh karena itu, sertifikasi internasional menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan seluruh proses dan sistem yang digunakan telah memenuhi standar global.

Bagi BCA, keamanan digital bukan sekadar aspek teknis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga hubungan dengan nasabah. Dengan fondasi keamanan yang kuat, bank dapat menghadirkan layanan inovatif tanpa mengorbankan perlindungan data pribadi.

Makna Sertifikasi Privasi Data Internasional

Lianawaty menjelaskan bahwa sertifikasi ISO 27701:2019 merupakan standar internasional yang berfokus pada sistem manajemen privasi informasi. Sertifikasi ini menjadi pedoman bagi organisasi dalam mengelola dan melindungi data pribadi secara menyeluruh.

Standar tersebut mencakup seluruh siklus pengelolaan data, mulai dari proses pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, hingga penghapusan data pribadi nasabah. Dengan penerapan standar ini, organisasi dituntut untuk memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas terkait perlindungan data.

“Sertifikasi ini juga mendukung kepatuhan perusahaan terhadap regulasi perlindungan yang berlaku,” tambah Lianawaty.

Penerapan ISO privasi data menunjukkan bahwa BCA tidak hanya berfokus pada kepatuhan formal, tetapi juga pada penerapan praktik terbaik dalam menjaga keamanan informasi. Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya risiko kebocoran data dan ancaman siber yang semakin kompleks.

Dengan sistem manajemen privasi yang terstandarisasi, BCA berupaya memastikan bahwa data nasabah dikelola secara aman dan bertanggung jawab, sejalan dengan prinsip perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan.

Tata Kelola Kecerdasan Buatan Yang Bertanggung Jawab

Selain sertifikasi privasi data, BCA juga meraih sertifikasi ISO 42001:2023, yang merupakan standar internasional terbaru dalam sistem manajemen kecerdasan buatan. Sertifikasi ini mengatur bagaimana AI dikembangkan dan dimanfaatkan secara etis, transparan, serta aman.

ISO 42001 dirancang untuk memastikan bahwa penggunaan AI tetap mengedepankan prinsip akuntabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi. Standar ini menjadi kerangka kerja bagi organisasi dalam mengelola risiko yang muncul dari pemanfaatan teknologi AI.

Bagi BCA, penerapan standar tata kelola AI menjadi sangat relevan seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi tersebut dalam operasional perbankan. AI digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari peningkatan efisiensi proses hingga penguatan layanan kepada nasabah.

Dengan sertifikasi ini, BCA menegaskan bahwa inovasi berbasis AI dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak mengabaikan aspek etika maupun keamanan. Hal tersebut sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap penggunaan teknologi canggih di sektor perbankan.

Transformasi Digital Berorientasi Perlindungan Nasabah

Diraihnya dua sertifikasi internasional tersebut menjadi langkah nyata BCA dalam memperkuat tata kelola perusahaan di tengah transformasi digital yang berkelanjutan. Lianawaty menegaskan bahwa transformasi digital yang dilakukan perseroan tidak semata-mata bertujuan memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah.

Menurutnya, aspek keamanan dan perlindungan nasabah menjadi prioritas utama dalam setiap inovasi yang dikembangkan. Dengan penerapan standar internasional, BCA berupaya menghadirkan layanan perbankan yang tidak hanya modern, tetapi juga aman dan andal.

“Melalui penerapan standar ini, BCA berupaya menghadirkan layanan yang aman dan andal untuk nasabah BCA. Kami berkomitmen untuk senantiasa memberikan layanan perbankan yang aman, inovatif, dan berorientasi pada perlindungan nasabah,” tutup Lianawaty.

Ke depan, BCA berkomitmen untuk terus memperkuat sistem keamanan digital seiring dengan perkembangan teknologi. Dengan kombinasi inovasi dan tata kelola yang kuat, BCA berharap dapat menjaga kepercayaan nasabah sekaligus mendukung pertumbuhan industri perbankan digital yang sehat di Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index